Review Buku: The Reader – Bernhard Schlink

Sahabat Lendabook, sedang bingung mencari judul buku bacaan untuk menemani libur panjang akhir tahun kalian? Yuk, simak bareng-bareng review buku keren satu ini 😀

When we open ourselves

you yourself to me and I myself to you,

when we submerge

you into me and I into you

when we vanish

into me you and into you I

then

am I me

and you are you.

– Bernhard Schlink, The Reader

Judul asli: Der Vorleser

Judul terjemahan: The Reader (Inggris), Sang Juru Baca (Indonesia)

Penulis: Bernhard Schlink

Copyright © 1995 by Diogenes Verlag AG, Zurich

Translation copyright © 1997 by Carol Brown Janeway

First published in hardcover in the United States by Pantheon, a division of Random House, Inc., New York, in 1997

 

Sahabat Lendabook, pernah mendengar tentang buku yang satu ini? Atau bahkan pernah menonton adaptasi layar lebarnya?

The Reader (Der Vorleser) adalah sebuah novel yang ditulis oleh seorang profesor hukum dan hakim asal Jerman, Bernhard Schlink. Novel ini diterbitkan di Jerman pada tahun 1995 dan kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris dan diterbitkan pertama kali di Amerika Serikat pada tahun 1997.

Buku yang berlatarbelakang kehidupan generasi paska perang (Holocaust) ini mendapat penerimaan cukup baik dari publik Jerman maupun internasional. Der Spiegel bahkan menyatakan bahwa The Reader adalah one of the greatest triumphs of German literature since Günter Grass’s The Tin Drum’. Selain telah terjual hingga lebih dari 500.000 kopi di Jerman, sejumlah penghargaan telah dianugerahkan terhadap buku ini termasuk Hans Fallada Prize pada tahun 1998 dan tercatat sebagai urutan ke-14 dari 100 buku favorit di Jerman. Buku ini telah diterjemahkan ke dalam 45 bahasa, menjadi buku Jerman pertama yang menempati jajaran teratas The New York Times bestselling books list, dan diadaptasi ke layar lebar tahun 2008 dengan judul yang sama (dibintangi oleh Kate Winslet dan Ralph Fiennes. Winslet memenangkan Academy Awards untuk perannya sebagai Hanna Schmitz).

Cerita dibuka dengan sudut pandang orang pertama sekaligus tokoh utama dalam novel ini, Michael Berg. Michael terserang hepatitis A saat usianya  15 tahun. Sebagai seorang bocah yang sakit-sakitan sehingga harus menjalani istirahat panjang di rumah, terpaksa tertinggal dalam pelajaran di sekolah membuatnya merasa kesepian dan tidak mampu bersosialisasi dengan baik terhadap teman sebayanya. Kehidupan keluarganya merupakan tipikal keluarga kelas menengah ke bawah paska era perang Dunia. Bosan dengan ‘cuti-liburan’ yang dijalaninya, suatu hari Michael memutuskan untuk berkeliling kota menghabiskan waktu. Di tengah perjalanannya, Michael muntah-muntah di depan sebuah gedung apartemen di Bahnhofstrasse. Sesosok wanita yang usianya dua kali usia Michael menolong bocah malang itu dengan sigap dan penuh perhatian.

Selang beberapa hari setelah kejadian itu, Michael menceritakan kejadian yang telah dilaluinya. Sang ibu menyarankan agar Michael kembali mendatangi wanita yang telah menolongnya dan memberikan bunga sebagai tanda terima kasih. Dan saat itulah Michael melihat adegan yang membekas di benaknya, adegan wanita yang kemudian dikenalnya sebagai Frau Schmitz sedang berganti pakaian rumah dengan pakaian bepergian. Michael pun merasakan ketertarikan fisik yang tidak dapat ia jelaskan terhadap Frau Schmitz. Singkat cerita, Michael telah jatuh cinta dan tidur dengan perempuan itu bahkan sebelum mengetahui nama depannya.

But then she was not awkward, she was slow-flowing, graceful, seductive – a seductiveness that had nothing to do with breast and hips and legs, but was an invitation to forget the world in the recesses of the body.
(p. 16)

Cerita berlanjut dengan hubungan diam-diam Michael dan Frau Schmitz (belakangan Michael baru mengetahui nama depannya, yaitu Hanna), pertemuan-pertemuan yang dihabiskan dengan berhubungan badan dan Michael membacakan banyak buku untuk Hanna. Hanna tidak pernah mau membaca buku sendiri, ia selalu minta Michael untuk membacakan buku-buku itu keras-keras. Seringkali Michael merasa bahwa ada dinding yang masih berdiri teguh antara dirinya dan Hanna, seakan-akan Hanna tak sepenuhnya jujur dengannya. Mereka sebetulnya sama saja seperti pasangan-pasangan lain, hanya dengan beda usia yang terpaut jauh dan hubungan yang dijalani secara diam-diam. Dengan segala gejolak hubungan percintaan yang mewarnai kisah mereka, Michael harus menerima kenyataan bahwa suatu hari Hanna pergi begitu saja dan lenyap dari hidupnya.

Michael bertemu Hanna lagi sebagai mahasiswa hukum, dan Hanna sebagai pesakitan di kursi pengadilan. Ternyata Hanna terlibat suatu kejahatan yang disembunyikannya rapat-rapat dari siapapun, kejahatan yang berkaitan dengan rezim Third Reich di Jerman, alias Nazi di bawah pimpinan Hitler. Hanna juga cenderung pasrah menerima saja segala putusan yang hendak dijatuhkan padanya. Michael hendak menolongnya, namun jelas bahwa Hanna tidak mau ditolong.

Akhirnya Michael menyaksikan Hanna dijatuhi hukuman penjara seumur hidup tanpa mampu berbuat apa-apa dan waktu pun berlalu, Michael bertumbuh menjadi seorang pria muda yang mempunyai pekerjaan dan istri, namun ia tidak pernah bisa melenyapkan Hanna dari benaknya. Ia mulai membaca Odyssey lagi, salah satu buku yang pernah dibacakannya untuk Hanna, kemudian merekam suaranya dalam kaset dan mengirimkannya kepada Hanna. Setelah bertahun-tahun, hanya itulah bentuk komunikasi mereka berdua. Michael tidak melampirkan surat apapun ataupun menyampaikan pesan dalam kaset yang dikirimnya. Suatu hari ia menerima balasan dari Hanna, dengan tulisan yang ditekan keras-keras pada kertas: “Jungchen, cerita terakhir bagus sekali. Terima kasih, Hanna.” Ini adalah salah satu bagian favorit saya dalam buku, karena bagian ini menceritakan perjuangan Hanna untuk mengatasi kelemahannya (yaitu buta huruf), dan mengambil satu langkah lebih maju, walaupun boleh dikatakan sudah terlambat baginya. Satu langkah yang diambil seorang manusia pada titik tertentu dalam hidupnya, betapapun kecil langkah itu, betapapun seakan sudah terlambat: selalu ada makna yang tersimpan di dalamnya, yang bisa dibawa sampai pada akhir perjalanan.

Nah, Sahabat Lendabook, jadi penasaran dengan kisah lengkap tentang Michael Berg dan Hanna Schmitz kan? Ayo share pendapatmu tentang buku ini setelah kamu membacanya 😀

Sebagian dilansir dari:

https://surgabukuku.wordpress.com/2012/07/31/review-the-reader-by-bernhard-schlink/

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *