Cerpen: Pelukan Terakhir

Kita melewati banyak hari, menjalani banyak kisah dan mewarnainya bersama-sama. aku berpikir bahwa aku sudah menemukan rumah yang tepat untuk ku pulang. Namun sama seperti senja yang hanya sesaat begitu jugalah dengan perasaan ini, hanya datang sesaat

Disini aku masih mampu tersenyum dengan tenang  saat aku berkata pada mu untuk mengakhiri hubungan ini.

“Kita sudahi saja kisah warna warni ini, agar semuanya baik-baik saja”

Kamu yang dari awal terlihat riang saat bertemu dengan ku tampak terkejut.

“Kenapa” tanya mu.

“Kamu akan baik-baik saja tanpa aku” ujarku

“Oh come on, ini bukan april mop dan aku sedang tidak ulangtahun” ujar mu

“Karna…, karna aku punya sedikit masalah dan tampaknya aku tidak ingin membaginya dengan mu”, ujar ku.

“Aku sudah katakan berulang kali pada mu, berhentilah menjadi wanita yang merasa dirimu kuat dan tegar menghadapi masalah, kamu harus berbaginya dengan ku. Sebatang lidi mudah dipatahkan tapi tidak dengan dua batang lidi”

“Aku dan kamu bukan lidi”, ujarku sambil tersenyum kecut.

Kamu masih tampak diam, memandang ke arah ku menunggu ku untuk berbicara. Ahh kenapa kamu selalu menunjukkan ekspresi seperti itu. Kamu tahu kan, aku tidak kuat menyembunyikan persoalanku saat melihat ekspresimu seperti itu. Rasanya ingin segera hilang di pelukan mu dan menangis. Seperti yang selalu aku lakukan saat aku merasa campur aduk, tidak nyaman dengan perasaan sendiri. Ok baiklah masalah ini harus disesaikan.

“Aku akan cerita. Tolong jangan potong pembicaraan ku”

Aku menarik nafas panjang  lalu memulai bercerita
“Aku akan menjalani operasi. Sebuah masalah yang cukup serius. Operasi itu akan mengakibatkan aku kehilangan hal penting dalam hidup ku. Ya, aku akan kehilangan rahim ku. Dan tentu kamu pasti tahu artinya. Aku tidak akan pernah bisa memiliki anak. Aku tidak bisa melahirkan anak. Aku tahu ini sebuah beban yang harus aku jalani, dan aku sama sekali tidak berniat untuk berbagi beban ini dengan mu. tidak.”

Kamu terdiam, terkejut, lantas tertunduk. Hening.

“Bersama mu aku menjalani banyak hari yang baik, mewarnai banyak warna warni dalam kisah perjalanan ini. Kamu mengajarkan aku tentang mengalahkan rasa takut, mengajari ku untuk bahagia dengan diri sendiri, membantuku mengenal berbagai talenta yang ada dalam diriku yang sebelumnya aku tidak tahu. Kamu mengajari ku untuk selalu bersyukur dan dekat dengan pencipta. Kamu mengajari ku tertawa bahkan disaat terburuk yang aku alami. Aku selalu berpikiran bahwa kamu adalah rumah untukku pulang. Tapi ternyata kamu hanya tempat singgah untukku. Tempat aku untuk belajar banyak hal namun tidak untuk menjadi rumah untuk pulang.” Ujarku perlahan.

Kamu terdiam.

“Aku tahu kedudukan mu sebagai anak tertua dan satu-satunya pria dikeluargamu, kamu diharapkan untuk segera menikah dan meneruskan marga mu. dan kita sudah sepakat untuk kelak mengakhiri hubungan ini di jenjang pernikahan. Tapi maaf aku sungguh belum bisa dan tidak akan bisa menjalaninya bersama mu. ada wanita lain yang selayaknya menggantikan posisi ku.

Setelah lama terdiam akhirnya kamu bersuara ….

“Menjalani hari bersama mu tidak lah mudah. Aku harus berjuang sekuat tenaga untuk meyakinkan mu mau menerima ku untuk bisa lebih dari sekedar teman dekat. Aku berulangkali kau tolak, berulangkali kau menyuruh ku untuk mencari wanita lain. Berulangkali aku meminta mu menerima ku, aku lupa sampai berapa kali aku meminta mu untuk menerima ku. Kamu memang wanita keras kepala. Aku tidak akan pernah lupa saat dimana akhirnya kamu mau menerima ku, tepat di hari ulangtahun mu aku datang meminta mu, seperti hari-hari kemarin dan ajaib saat itu kau mengizinkan ku untuk menjadi lebih dari sekedar teman dekat.

Bersama mu aku mengenal banyak kebiasaan baru mu. kamu yang sangat segan meminta bantuanku karna menurut mu kamu adalah wanita mandiri.

Kamu yang selalu terlihat tersenyum tertawa konyol tapi dalam hati mu ada berbagai perkara. Kamu yang selalu ketakutan saat menyebrang jalan raya sehingga sering dibantu nyebrang oleh tukang parkir. Kamu yang akan selalu memegang tangan ku saat berada di lingkungan baru. Kamu yang selalu meminta izin untuk meminjam pundak ku ketika ingin menangis.

Kamu yang selalu menerima permohonan maaf ku saat melakukan kesalahan dengan syarat menemani mu menonton senja. Kamu yang ketika merajuk akan segera luluh ketika diberi es krim dan dipeluk. Kamu yang selalu cerewet saat aku mengusap-usap kepalamu. Kamu yang ahli ber-make up di mobil. Kamu yang setiap berbicara selalu berhasil mengusir ketakutan orang lain namun kamu sendiri tidak bisa mengusir ketakutan mu.

Masih banyak lagi tentang mu.

lalu sekarang kamu memintaku untuk pergi, mencari kebahagiaan, menemukan wanita baru lagi. Apa kamu pikir itu mudah untuk ku?”

“ Aku tidak mengira kamu mengenal ku secara mendetail. Tiada yang tahu persoalan besok, aku tidak ingin menambah beban ini kepada orang lain. Berjalannya waktu aku dan kamu akan mampu menerima, dan menjalaninya dengan ikhlas. Lepaskan aku, …”

“ Jadi kamu ingin membawa beban ini seorang diri?”

“ Iya, aku cukup kuat “ ujar ku lirih

“ Aku tidak akan melepas kan mu. tidak. Berhentilah menganggap diri mu kuat. Kamu bukan super woman. Kamu bukan wanita yang hatinya terbuat dari baja. Kamu hanya manusia biasa. Berbagilah beban ini dengan ku” ujar mu dengan penuh emosi.

“ Lepaskan aku. Mulai lagi mencari kebahagiaan mu. demi aku, orang tuamu. Kalau kamu sudah menemukan kebahagiaan mu, sedikit banyak itu juga kebahagiaan untukku. Aku bahagia saat kau menemukan kebahagiaan mu.” aku tersenyum memandang mu

“ Tidak semudah itu..”

“ Iya aku tahu, aku tidak meminta semuanya berjalan cepat. Hanya saja mulai saat ini kita harus berjalan sendiri-sendiri.”

Hening….

Hening yang terjadi diantara kita aku simpulkan sebagai ungkapan non verbal bahwa kita memang harus melakukan ini, berpisah. Ahhh sejujurnya aku juga takut mengahadapi hari esok, aku juga takut saat aku tahu bahwa aku tidak bisa lagi leluasa mencari mu untuk meminta dipeluk, aku juga sedih saat aku tahu bahwa aku tidak bisa lagi meminta mu menonton langit senja, aku juga takut menghadapi operasi yang jadwalnya 2 minggu lagi, aku takutdan sangat takut…

But the show must go on…

“Sebelum aku pulang aku ingin memberitahumu bahwa aku tidak menangis sama sekali saat aku mendapat berita ini. Aku selalu ingat saat kamu bilang bahwa aku tidak boleh terlalu cengeng, kalau ingin menangis harus menangis di pundak mu atau di peluk mu. jadi boleh aku minta dipeluk? Aku ingin menangis. Mungkin ini yang terakhir kali ” ujarku sambil tersenyum lirih memandang mu.

Kamu yang semenjak tadi berdiri kaku tertunduk memandang rerumputan, menoleh ke arah ku membentangkan kedua lengan mu, ada air mata yang jatuh saat kau membentangkan lengan. aku berjalan dengan gontai ke arah mu, ke pelukan mu yang mungkin untuk terakhir kalinya aku menangis di pelukan ini.

Aku menangis di pelukan mu, kamu juga menangis di pelukan ku. Aku mengeluarkan semua perasaan campur aduk di hati ini, aku mengenang hari-hari bersama mu, rencana yang sudah kita susun, mengenang semua kebersamaan ini. Pelukan ku semakin erat, kamu juga. Tidak ada yang berubah dengan keputusan ku meskipun terasa sangat nyaman dipeluk menangis seperti  ini, ini kejujuran hati sebelum kau ku tinggal pergi.

“Apakah pelukan ini mampu menahan mu untuk tidak pergi?” ujarmu di sela tangis.

“Tidak ada yang berubah. aku harus pergi. Bukan karena aku atau kamu namun karna keadaan” ujarku di sela isak tangis.

Akhirnya kulepaskan pelukan terakhir ini, meski rasanya aku ingin menghentikan waktu saja. Aku memandang ke arah mu, memegang kedua pipi mu lantas menghapus air mata mu.

“Jangan menangis. Lelaki tidak boleh cengeng. Berjanjilah untuk selalu bahagia. Berjanjilah untuk mencari wanita lain. berjanjilah untuk mencintainya lebih dari kamu mencintai ku. Berjanjilah untuk mengundang ku ke acara nikah mu. berjanjilah untuk mengiri mi ku foto anak mu ketika lahir. Berjanjilah untuk selalu bahagia” ujarku terbata-bata di sela-sela isak tangis.

“Apa ini yang namanya pengorbanan? Apa cinta seperti ini”.

“Cinta adalah pengorbanan. Bukan hanya antara kita berdua, tapi juga untuk kebahagiaan orang lain. kita orang yang dipilih untuk berkorban demi cinta pada kebahagiaan orang lain. kita pasti bisa”

Langit malam itu menjadi saksi perpisahan kami, saksi pengorbanan untuk cinta yang dianugerahkan sang pencipta. Langit malam itu menjadi saksi bahwa kamu bukanlah rumah untuk aku pulang dan peluk malam ini adalah peluk terakhir yang aku punya untuk menangis di pelukan mu. ada perasaan hangat di hati ku saat kita berhasil mengakhirinya dengan baik-baik.

Kamu tahu aku paling jago dalam hal menyembunyikan perasaan. Aku bisa bahagia hanya dengan menonton langit sore hari. Namun seperti yang kita percayai bahwa bahagia  itu diciptakan dari dalam diri sendiri, lantas dibagikan kepada orang lain. aku mungkin saja merasa tak berdaya tanpa ada kamu disini namun setidaknya untuk memulai kembali bahagia dari dalam diri ku, aku bisa terlebih dahulu membagi bahagia pada orang lain.

 

Cerpen ini ditulis oleh Susi Roida Simanjuntak, Sahabat Lendabook mahasiwi Profesi Ners USU yang nunggu wisuda bulan ini. Colek Susi via twitternya @si_susiii dan tumblrnya di gladiolsusi.tumblr.com

Mau tulisanmu dibaca ribuan komunitas Lendabook dan pecinta buku di seluruh Indonesia? Baca ketentuannya disini.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *