Setinggi Langit: Cerita Sepuluh Peneliti Wanita dari L'Oreal For Women in Science

Sepuluh wanita berikut ini berhasil mengukir prestasi melalui program For Women in Science (FWIS) yang merupakan kerjasama antara L’Oreal, KNIU UNESCO dan Kemendikbud. Program ini bertujuan untuk mendorong semangat para peneliti wanita. Kisah mereka digoreskan dalam buku Setinggi Langit yang ditulis oleh Angkie Yudistia yang juga merupakan sosok anak muda yang inspiratif, dalam rangka satu dawarsa pemberdayaan perempuan Indonesia dalam ilmu pengetahuan. Berikut sosok sepuluh wanita inspiratif tersebut yang dirangkum oleh tim redaksi Lendabook.

 

1. Upik Andriani Miskad

via upikmiskad.blogspot.com
via upikmiskad.blogspot.com

Wanita yang akrab disapa dengan Upik ini, lahir di Soppeng, Sulawesi Selatan. Meskipun tumbuh dan berkembang dari keluarga yang sederhana, Upik berhasil menamatkan sekolahnya hingga program doktoral di Negeri Sakura. Saat ini Upik berprofesi sebagai seorang peneliti dan pengajar di Universitas Hassanuddin. Ia memenangkan L’Oreal-UNESCO For Women in Science pada tahun 2012 melalui penelitiannya tentang kanker kolorektal (kanker yang berkembang dari sel-sel usus besar).

 

2. Made Tri Ari Penia Kresnowati

via thejakartapost.com
via thejakartapost.com

Peni, begitu panggilan akrabnya, merupakan seorang staff pengajar di Program Studi Teknik Kimia, Fakultas Teknik Industri, ITB. Ia berhasil menamatkan program doktoral di Delft University of Technology, Belanda. Di saat menempuh gelar doktornya, Peni sempat cuti selama setahun. Dalam cutinya ini dia mengikuti program L’Oreal-UNESCO For Women in Science 2008.

 

3. Rani Sauriasari

via female.kompas.com
via female.kompas.com

Melalui penyakit diabetes yang diderita oleh sang Ibu, Ranipun dapat menyelesaikan program S3 di University of Okayama, Jepang. Ia melakukan riset tentang peningkat kerja sel darah untuk penderita diabetes militus. Wanita yang mempunyai prinsip totalitas dalam melakukan sesuatu ini berhasil menjadi pemenang National Fellowsgip L’Oreal UNESCO For Women in Science 2013. Saat ini, wanita inspiratif ini selain mengajar dan meneliti juga melakukan pengabdian masyarakat di sebuah desa di Tangerang.

4. Fatma Sri Wahyuni

buk ayu
via facebook.com

Terlahir sebagai anak petani, wanita yang akrab disapa Ayu ini berhasil meraih gelar Ph.D dalam bidang penemuan obat di kampus negeri Jiran. Berkat kejeliannya melihat potensi alam Sumatera Barat, yaitu asam kandis-bumbu masak, beliau berhasil memenangkan National Fellowship L’Oreal-UNESCO For Women in Science 2006. Penelitiannya tentang manfaat asam kandis terhadap penyakit kanker telah memberi nilai tambah yang besar terhadap tumbuhan tradisional Indonesia. Saat ini, Ayu, selain terus meneliti, ia juga menjadi pengajar di Fakultas Farmasi Universitas Andalas, tempat dia menempuh S1-nya dahulu.

5. Yosmina Tapilatu

via thejakartapost.com
via thejakartapost.com

Terinspirasi dari perairan Maluku, tempat kelahirannya, wanita yang dipanggil Yosmina ini berhasil meraih gelar doktor di bidang Sains dan Kelautan ada tahun 2010 dari Marseilles, Perancis. Menjadi seorang pakar mikrobiologi laut telah mengantarkannya menjadi pemenang L’Oreal-Unesco For Women in Science pada tahun 2011 untuk kategori Life Science melalui penelitiannya yang berjudul “Berburu Bakteri Penghambat Eksopolisakarida di Perairan Laut Dalam Maluku”. Saat ini ia menjadi peneliti muda di Unit Pelaksana Teknis Balai Konservasi Biota Laut Ambon, LIPI. Ia bercita-cita untuk membangun pusat koleksi kultur/jaringan di Ambon.

6. Sri Fatmawati

via kabar24.com
via kabar24.com

Wanita cantik ini, kerap dipanggil Fatma. Ia merupakan doktor di bidang Ilmu Lingkungan Pertanian dari Kusyhu University Fukuoka. Melalui ide penelitiannya tentang spons dari Samudera Pasifik mengantarkannya sebagai pemenang L’Oreal-UNESCO For Women in Science 2013 di Paris, Perancis. Ia mendapatkan hibah dana US$40,000 untuk melakukan penelitian selama dua tahun di Institute of Natural Products Chemistry, National Center for Scientific Research (CNRS) di Gif-sur-Yvette, Perancis.

 

7. Sidrotun Naim

via http://health-tips-healthy.blogspot.com/
via health-tips-healthy.blogspot.com

Wanita yang satu ini dijuluki “dokter udang” karena beliau berhasil meraih gelar Ph.D dari University of Arizona, Amerika Serikat di bidang penyakit udang. Ia mendapatkan inspirasi dari Fenny Martha Dwivany (pemenang FWIS 2007) untuk menjadi orang hebat, karena ia mempunyai prinsip sebelum menjadi hebat, kita harus kenal dekat dengan orang hebat dulu. Pada tahun 2009 perkenalannya dengan orang-orang hebat telah mengantarkannya untuk mendapatkan beasiswa L’Oreal-UNESCO For Women in Science di bidang Mikrobiologi. Dari sinilah, ia melanjutkan studi pasca doktoral di Harvard Medical School, Boston, Amerika Serikat. Jauh-jauh bersekolah ke negeri orang tidak membuatnya lupa akan negerinya sendiri. Walaupun sekolah jauh di Boston, ia masih bekerja dengan timnya di Surya University di Serpong, Tangerang dalam melakukan riset “obat untuk penyakit udang”. Kelak, obat ini bisa diaplikasikan di Indonesia untuk meningkatkan kualitas udang di Indonesia.

8. Wiratni

via wiratni.wordpress.com
via wiratni.wordpress.com

Berawal dari penolakan orangtua untuk menempuh kuliah di FSRD ITB, Wiratni, memulai batu loncatannya di Jurusan Kimia Fakultas Teknik UGM. Lulus pascasarjana dengan IPK 4,00 mengantarkannya kepada beasiswa doktor di bidang Teknik Kimia di College of Engineering and Mineral Resources, West Virginia University, Amerika Serikat. Dari tekadnya untuk mengembalikan ilmu yang diperoleh selama perantauan ke negerinya, beliau mengikuti kompetisi  L’Oreal-UNESCO For Women in Science pada tahun 2007. Optimasi Teknik Purifikasi Biopolimer Poli Hidroksi Butirat (PHB) untuk Pengendalian Karakteristik Molekuler dan Sifat Fisis Produk mendapatkan hibah penelitan.

 

9. Fenny Martha Dwivany

via sumutpos.co
via sumutpos.co

Berangkat dari kisah bapak tua penjaja pisang di kawasan Dago, wanita yang akrab dipanggil Fenny inipun memutuskan untuk meneliti tentang pisang. Pisang telah mengantarkannya memperoleh gelar doktor pada usia 31 tahun di University of Melbourne. Saat ini beliau memegang jabatan penting yaitu Kepala Laboratorium Keahlian Genetika dan Analisis Molekuler SITH ITB.

10. Ines Atmosukarto

via blogs.adelaide.edu.au
via blogs.adelaide.edu.au

Pemenang L’Oreal-UNESCO For Women in Science tahun pertama, 2004, ini menjadi inspirasi peneliti wanita di Indonesia. Beliau saat ini tinggal di Canberra, Australia. Sulung dari pasangan Rumania dan Jawa ini menapaki karir hingga menjadi Chief Scientific Officer (CSO) di Lipotek Pty.Ltd yang bergerak dalam pengembangan vaksin dan terapi imun untuk kanker dan penyakit infeksi.

Bagaimana? Sangat menginspirasi bukan? Semoga kamu para peneliti muda wanita Indonesia dapat mengukir prestasi seperti mereka juga ya. Semangat! 🙂

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *