3 Pesan dari Novel Pasung Jiwa Karya Okky Madasari

Okky Madasari, novelis yang dikenal dengan karya-karya yang menyuarakan kritik sosial. Okky Madasari juga merupakan peraih Khatulistiwa Literary Award 2012 untuk novelnya Maryam (2012) yang bercerita tentang orang-orang yang terusir karena keyakinannya. Maryam telah diterjemahkan dalam bahasa Inggris dengan judul The Outcast. Novel pertama Okky, Entrok (2010), berkisah tentang dominasi militer dan ketidakadilan pada masa Orde Baru. Entrok telah diterjemahkan dalam bahasa Inggris dengan judul The Years of The Voiceless. Novel ketiganya, 86 (2011), bercerita tentang korupsi di Indonesia pada maasa sekarang ini. Dan novel terbarunya, Pasung Jiwa (2013), bercerita tentang perjuangan manusia mendapatkan kebebasan dalam periode sebelum dan sesudah reformasi. Edisi Inggrisnya baru terbit dengan judul Bound.

pasung jiwa cover

Pasung Jiwa adalah novel ke-4 karya Okky Madasari. Seperti ketiga novel lainnya, karya Okky Madasari ini mempunyai tema yang tidak biasa. Di novel ini Okky bercerita tentang kebebasan aktualisasi diri yang digambarkan melalui sosok Sasana atau Sasa. Redaksi Lendabook telah merangkum 3 pesan dari Novel Pasung Jiwa ini. Apa saja pesannya? Mari kita simak.

1. Temanmu menggambarkan dirimu

via blog.clarity.fm
via blog.clarity.fm

Sasana kecil menyukai musik dangdut, tak jarang ayahnya memarahinya. Sampai ketika dewasa Sasana bertemu dengan Cak Jek, satu tokoh yang melengkapi kebebasan fikiran Sasana. Bersama Cak Jek, Sasana berubah menjadi Sasa (Nama cowok yang berganti nama cewek). Bak Gayung bersambut, Sasana mendapat angin mewujudkan keinginannya, Cak Jek mendukungnya. Cak Jek memberikan harapan pada Sasa yang sedang mencari jawaban atas kegalauan akan arti kebebasan. Begitulah berteman, berteman dengan yang baik, baik pula diri kita, begitu pun sebaliknya. Mungkin itu yang terjadi antara Cak Jek dan Sasa.

2. Orang Tua Selalu Meyanyangi Anaknya

via www.lovingparentnetwork.com
via www.lovingparentnetwork.com

Bagian mengharukan dari novel Pasung Jiwa adalah ketika orang tua Sasana mengetahui dia telah berubah menjadi Sasa. Ibunya sangat terpukul dan ayahnya marah besar atas keputusannya. Ibunya bertanya-tanya, berusaha mencari kesalahan yang menyebabkan anaknya seperti ini. Orang tua tetaplah orang tua. Bagaimana pun anaknya, mereka tetap akan menyayangi. Terutama Ibu. Sang Ibu rela meninggalkan pekerjaannya dan meninggalkan rumah demi memastikan anaknya baik-baik saja.

3. Carilah Kebebasan yang Menenangkan Hati

via www.movie-hound.com
via www.movie-hound.com

Keinginan kuat aktualisasi diri Sasa untuk menjadi penyanyi dangdut meresahkan masyarakat. Sehingga dalam satu konser Sasa, Sasa digrebek dan dilarang untuk tampil. Bagi Sasana, menjadi Sasa merupakan kebahagiaan. Tetapi bagi masyarakat umum, menjadi Sasa merupakan hal yang tidak wajar. Kebebasan merupakan hak setiap orang, namun yang terpenting adalah jangan sampai kebebasan atau hak yang kita miliki itu mengganggu atau bahkan merampas hak-hak orang lain.

 

Itulah 3 pesan yang berhasil kami rangkum dari Novel apik karya Okky Madasari. Untuk kamu yang penasaran bagaimana cerita lengkapnya, langsung saja baca novelnya!. Jangan lupa untuk membaca karya-karya Okky yang lain yang tidak kalah hebatnya.

 

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: