8 Karya Klasik yang Diadaptasi ke Dalam Film dan Wajib Kamu Baca Bukunya

“Sebuah cerita menjadi besar bukan karena ia dibaca, ditonton, atau didengar jutaan orang. Sebuah cerita menjadi besar karena ia diceritakan berulang-ulang, dari generasi ke generasi, dari satu bangsa ke bangsa lain, dari satu bahasa ke bahasa lain”

Mudah sekali untuk melupakan karya-karya klasik di antara lautan karya baru yang lebih segar dan sedang nge-trend. Padahal, karya-karya ini disebut ‘klasik’ bukannya tanpa alasan. Sebagian dari karya ini  berhasil melewati puluhan dekade (bahkan mungkin ratusan tahun) tanpa kehilangan pesonanya dan tetap menjadi kesayangan banyak orang hingga saat ini.

Untuk kalian yang gemar membaca buku dan bingung mau menambahkan judul apa lagi ke dalam daftar bacaan kalian, berikut daftar sejumlah karya sastra dari penulis-penulis legendaris, yang wajib kalian cari bukunya dan bukan hanya ditonton adaptasinya.

  1. Tenggelamnya Kapal Van der Wijck (1939)
Tenggelamnya Kapal Van der Wijck

Tenggelamnya Kapal Van der Wijck adalah sebuah novel yang ditulis oleh Haji Abdul Malik Karim Amrullah atau lebih dikenal dengan nama Hamka. Novel ini mengisahkan persoalan adat yang berlaku di Minangkabau dan perbedaan latar belakang sosial yang menghalangi hubungan cinta sepasang kekasih hingga berakhir dengan kematian.

Novel ini pertama kali ditulis oleh Hamka sebagai cerita bersambung dalam sebuah majalah yang dipimpinnya, Pedoman Masyarakat pada tahun 1938. Dalam novel ini, Hamka mengkritik beberapa tradisi yang dilakukan oleh masyarakat pada saat itu terutama mengenai kawin paksa. Kritikus sastra Indonesia Bakri Siregar menyebut Van der Wijck sebagai karya terbaik Hamka. Diterbitkan sebagai novel pada tahun 1939, Tenggelamnya Kapal Van der Wijck terus mengalami cetak ulang sampai saat sekarang dan diadaptasi ke layar lebar pada tahun 2013.

  1. Badai Pasti Berlalu (1974)
Badai Pasti Berlalu
Badai Pasti Berlalu

Badai Pasti Berlalu adalah sebuah novel berbahasa Indonesia karya Marga T yang diterbitkan pada tahun 1974. Novel ini merupakan serialisasi dari cerita bersambung yang dimuat di harian KOMPAS dari 5 Juni 1972 hingga 2 September 1972. Cerita bersambung tersebut ternyata digemari pembaca dan juga menarik perhatian dunia sastra Indonesia. Novel Badai Pasti Berlalu merupakan salah satu karya terbaik dari Marga T. Novel ini pernah diangkat ke layar lebar yang disutradarai oleh Teguh Karya pada tahun 1977 dan menjadi sebuah film yang sangat sukses. Versi daur ulang tahun 2007 dari film tersebut disutradarai oleh Teddy Soeriaatmadja dan dibintangi oleh Vino Bastian dan Raihaanun.

  1. The Godfather (1969)
The Godfather (GPU)

Sumber: google.com

The Godfather menceritakan kisah keluarga Mafia yang dipimpin oleh Don Vito Corleone, ia dikenal sebagai salah satu pemimpin Mafia – Sisilia yang disegani di New York City. Mario Puzo dalam novelnya ini mengemas kisah keluarga Corleone dengan kerajaan bawah tanahnya dengan menarik. Sejak awal. pembaca akan diikutsertakan dalam sebuah petualangan sepak terjang sang Godfather beserta tokoh-tokohnya yang memiliki beragam karakter yang kompleks yang memiliki harapan, impian, dan ketakutan, tapi juga merupakan pembunuh keji.

Kegambalangan dan cara berutur Puzo yang detail dan sangat hidup membuat The Godfather kini menjadi novel klasik yang akan dikenang sepanjang masa. Novel ini telah terjual lebih dari 21 juta copy dan bertahan di daftar best-seller surat kabar The New York Times selama 67 minggu. Kesuksesan The Godfather berlanjut ketika novel ini dilirik oleh sutradara bertangan dingin Francis Ford Copolla yang bersama-sama Puzo mengadaptasi novel ini ke layar perak. Puzo dan Copolla memperoleh Oscar untuk Skenario Adaptasi Terbaik. Sedangkan The Godfather I dan The Godfather II terpilih sebagai film terbaik tahun 1972 dan 1974.

  1. Mahabharata (400 SM)
Mahabharata (GPU)

via berbagiebooks.blogspot.com

Mungkin Mahabharata, atau kisah keluarga besar Bharata, adalah cerita yang paling banyak diceritakan ulang, dibaca, ditonton juga didengar di seluruh dunia ini, setidaknya di negara kita. Bukan hanya dalam buku, melainkan dalam bentuk pertunjukan wayang, kesenian rakyat, sampai film tv dan layar lebar. Dengan umurnya yang telah ratusan tahun, melintasi banyak generasi, bangsa dan bahasa, Mahabharata menjelma menjadi karya besar karena banyak cerita dan pujian yang ditambahkan oleh berbagai pengarang dan penutur.

Dengan semangat mengembalikan kisah ini ke bentuk yang mendekati aslinya, Nyoman S. Pendit menulis ulang Mahabharata dalam buku setebal 380-an halaman. Mahabharata yang diceritakan dalam buku ini sarat dengan nuansa India, tanah kelahirannya. Beberapa bagian mungkin akan membuat pembaca tradisional mengernyitkan dahi. Seperti misal, Draupadi yang menjadi istri bagi kelima Pandawa.

Yang membuat Mahabharata versi Nyoman S. Pendit ini cukup enak dinikmati adalah kisah-kisahnya dituturkan secara berurutan dalam 55 cerita yang terpisah. Ada beberapa bagian cerita yang menarik, misal: kisah Dushmanta dan Syakuntala, kisah raja Yayati. Tokoh-tokoh penting juga diceritakan dalam bab-bab terpisah. Seperti: Karna, Drona, Widura. Bagian-bagian dramatis juga diceritakan dalam bab terpisah. Seperti: penghinaan untuk Draupadi dalam permainan dadu, gugurnya Bhisma, gugurnya Drona. Buku ini tentu kurang tebal untuk menceritakan seluruh kisah-kisah Mahabharata. Namun, tampaknya tidak akan ada buku setebal apa pun yang cukup untuk menuliskan detil Mahabharata. Hari ini ditulis lengkap, maka esok akan muncul cerita baru dari penutur, dalang atau penulis lain. Maka Mahabharata pun semakin besar.

Bagi pembaca generasi modern, buku ini layak dibaca sebagai pengenalan yang baik bagi kisah Mahabharata. Setelah itu bisa dilanjutkan membaca Ramayana atau Bhagavadgita. Tidak ada salahnya juga untuk melengkapi bacaan dengan komik-komik Mahabharata yang ditulis oleh sang komikus kenamaan, RA. Kosasih.

  1. Gone With The Wind (1936)
Gone With The Wind

via id.wikipedia.org

Gone with the Wind adalah sebuah novel Amerika karya Margaret Mitchell yang diterbitkan pada 1936 dan memenangkan Penghargaan Pulitzer pada 1937. Novel ini adalah salah satu novel terpopuler sepanjang masa, dan adaptasi layar lebarnya yang dirilis pada 1939 berhasil memecahkan rekor jumlah Oscar yang diterima.

Karya Mitchell bercerita tentang kisah seorang wanita berjiwa pemberontak dari Georgia yang bernama Scarlett O’Hara dan hubungannya dengan sahabat, keluarga dan kekasihnya di tengah Perang Saudara AS, serta masa “Rekonstruksi”. Novel ini juga bercerita tentang cinta yang tumbuh antara O’Hara dan Rhett Butler.

Pada 1938, kisah ini diangkat ke layar lebar dan dibintangi oleh Clark Gable sebagai Rhett Butler dan Vivien Leigh sebagai Scarlett O’Hara. Film ini mulai diputar di Atlanta, Georgia pada 15 Desember 1939 dengan biaya produksi sekitar US$4 juta, dan hingga kini merupakan film dengan pemasukan terbesar sepanjang sejarah (sesuai perubahan inflasi). Film ini mendapatkan 13 nominasi Oscar dan memenangkan delapan di antaranya.

  1. Pride and Prejudice (1813)
Pride and Prejudice

Pride and Prejudice adalah Novel karangan Jane Austen yang dipublikasikan pada 28 Januari 1813 merupakan novel kompleks yang mengaitkan peristiwa seputar hubungan, hidup, dan kisah cinta dari kelas menengah-atas keluarga Inggris di akhir abad kesembilan belas. Karakter-karakternya yang memukau, juga narasinya yang cerdas, menjadikan novel ini sebagai salah satu roman terpopuler sepanjang masa.

Novel ini menceritakan tentang keluarga Bennet dengan 5 orang anak perempuan dan kisah cinta antara Mr. Darcy dan Elizabeth Bennet. Namun di mata Elizabeth, Mr. Darcy tidak pernah menjadi sosok yang memesona. Baginya, laki-laki itu angkuh, sombong, dan menyebalkan. Butuh waktu lama bagi Elizabeth untuk memahami sisi lain Mr. Darcy dan menerima kenyataan akan kebaikannya yang tersembunyi. Dan, ketika akhirnya Elizabeth menyadari perasaannya kepada Mr. Darcy telah berkembang menjadi cinta, dia pun menjadi ragu apakah dia bisa menghilangkan prasangkanya yang sangat buruk terhadap Mr. Darcy.

Kisah ini telah banyak diadaptasi ke dalam bentuk film, serial televisi, maupun drama teater. Versi layar lebar yang cukup dikenal masyarakat luas adalah Pride and Prejudice (2005) yang dibintangi oleh si cantik Keira Knightley.

  1. To Kill a Mockingbird (1960)
To Kill a Mockingbird

via catatansitirahmah.blogspot.com

Novel yang mendapatkan penghargaan Pulitzer ini ditulis Harper Lee dengan kisah yang indah dan bahasa yang mudah dimengerti tentang keluarga kulit putih yang tinggal di Maycomb, Alabama – Amerika serikat. Bercerita dari sudut pandang gadis kecil berusia delapan tahun bernama Scout Finch. Ibunya telah lama meninggal dunia. Scout, kakaknya, Jem Finch, dan ayahnya, Atticus Finch yang berprofesi sebagai pengacara, hidup saling menyayangi dan dekat satu sama lain. Perlakuan rasis dikalangan kulit putih atas kulit hitam membawa Atticus Finch, yang memiliki sorang pembantu berkulit hitam bernama Calpurnia, tergerak untuk membela seorang pemuda kulit hitam yang dituduh memperkosa seorang gadis kulit putih. Kehidupan Atticus Finch dan anak-anaknya seolah bermain dengan nurani-nurani yang murni, membela keadilan di tengah isu appartheid meskipun jiwanya terancam.

Novel pertama dan satu-satunya, karya Nelle Harper Lee (1926-…) ini telah diangkat ke layar lebar pada tahun 1962 dibintangi oleh Mary Badham, Gregory Peck, Robert Duvall (The Godfather), dan sukses memenangkan sejumlah penghargaan di berbagai ajang bergengsi.

  1. The Great Gatsby (1925)
The Great Gatsby

via bukuygkubaca.blogspot.com

The Great Gatsby adalah salah satu novel legendaris karya penulis Amerika F.Scott Fitzgerald (1896-1940). Ketika pertama kali terbit pada tahun 1925 novel ini tidak begitu populer dan hanya terjual kurang dari 25 ribu copy selama sisa hidup Fitzgerald yang meninggal pada usia 44 tahun.

The Great Gatsby dipublikasi ulang pada tahun 1945 dan 1953, barulah setelah itu novel ini menjadi sangat laris dan melambungkan nama Fitzgerald sebagai pengarang kelas dunia. Saking populernya novel ini juga banyak diadaptasi ke dalam film, drama, opera, dan sebagainya. Adaptasi film yang paling terkenal adalah produksi tahun 1974 yang dibintangi oleh Robert Renford yang hingga kini dinilai paling pas memerankan tokoh flamboyan Jay Gatsby.

Tak hanya itu saja The Great Gatsby juga dianggap menjadi novel terbaik sepanjang masa dan menjadi bacaan standard dalam pelajaran literatur Amerika. Selain itu penerbit terkemuka Amerika Modern Library memuji novel ini sebagai “Satu diantara dua novel terbaik Amerika” dan menempatkan novel ini dalam urutan ke dua setelah Ullysses (James Joyce) dalam Daftar 100 Novel Terbaik abad 20 yang disusun berdasarkan peringkat.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *