CERPEN: Daun, Bunga, dan Hujan

Bunga tidak pernah mendapatkan cinta sejatinya karena Bunga hanya menunggu Hujan atau karena Daun hanya diam?

***

Aku sehelai Daun.

Yang mencintai Bunga yang mekar.

            Aku suka saat melihat Bunga mengembangkan mahkotanya dengan ceria di pagi hari. Aku suka saat melihat ia dengan cantiknya melenggak lenggok tersapu angin. Aku suka melihat tawa rekahnya itu, ditemani kedua pipinya yang memerah ketika malu. Aku suka caranya tersenyum, caranya marah, caranya menyapaku dengan suara manis renyah seperti cupcake. Aku suka setiap ‘Hai’ yang terucap lewat bibir pink itu. Sekedar mata coklat berbinarnya yang tak sengaja bertatapan di detik yang sama, menit yang sama, yang menahan nafasku sejenak. Gugup tak karuan. Aku bahkan iri pada embun yang jatuh berkilauan dari setiap gerai lembarannya.

            Yah, tapi siapa aku? Aku cuma sahabatnya. Tempatnya mencurahkan perasaan ketika sedih. Tempatnya bersenda gurau. Aku cuma Daun yang selalu menemaninya melangkah kemanapun ia pergi. Aku cuma Daun yang selalu berjarak dengan Bunga. Dan yang tidak pernah lebih dekat dari itu.

            “Hei, Daun!” sapanya dengan senyuman lebar. Aku tertunduk, panik. Rasanya jantungku bertalu lebih cepat. Bahkan keringatku tiba-tiba mengucur tanpa kuminta. Ah… Bunga, kenapa kamu harus semenarik itu pagi ini? Tolong jangan mengerlingku lewat bola mata seindah itu, Bunga, atau aku akan mencintaimu lebih dalam lagi.

            “Hei,” jawabku dengan senyuman.  “Gimana kemarin? Ketahuan kalau bolos?”

            “Ya, gitu deh. Males sih kemarin. Haha,” katanya diiringi tawa.

            Aku menerawang menatap langit. Waw, Bunga, kamu sadar nggak ya, kalau aku satu-satunya yang tahu banyak sisi darimu yang mungkin nggak diketahui orang lain. Diam-diam aku bangga akan posisiku sebagai sahabatnya.

            “Eh, Daun. Kamu mau bantuin aku sesuatu nggak?” Tiba-tiba dia menatapku serius. Terlalu serius malah. “Soalnya aku nggak berani kalau sendirian. Aku butuh kamu,” lanjutnya.

            Di balik senyumku aku menelan ludah. Well, terakhir dia memintaku membantu mengusir kumbang jahat dan aku tercabik-cabik karena menggantikan Bunga. “Ya jangan kayak yang dulu tapi, ya. Butuh waktu seminggu tuh buat sembuh waktu itu. Hahahaha,” tawaku mencoba mencairkan suasana. Namun, sepertinya aku tidak begitu menghibur dia kali ini. Dia tetap menatapku lurus dan anehnya, tanpa senyum.

            “Daun aku cantik nggak, sih?” tanyanya spontan. Alisku otomatis naik. Heran atas pertanyaan dari Bunga. Jadi, haruskah aku jujur?

            “Ehm… Yah, can-tik sih. Kenapa?”

            “Oh ya? Masa?” Bunga masih belum terlihat percaya diri.

            Aku mengangguk. “Asal nggak mbolosan aja sih,” jawabku masih bergurau. Bunga mendekatkan wajahnya padaku hingga aku mampu mencium aroma harum khas dirinya.

            “Daun…” katanya. “Kalau aku bilang ke Hujan kalau aku suka dia, kira-kira reaksinya gimana, ya?”

            Patah. Ranting ini patah.

            Seharusnya aku bisa menyembunyikan perasaan, tetapi entah kenapa tanpa sadar aku patah. Di saat itu pun Bunga tetap diam menunggu jawabanku. Tanpa melihat kalau sebagian rantingku patah dan aku tergantung tak berdaya. Waw, luar biasa Bunga. Kamu benar-benar memiliki hati dingin laksana bongkahan es. Hampir 3 tahun kami berteman dan selama itu pula aku mencoba mencairkannya sedikit demi sedikit. Tapi sepertinya itu nggak berefek padamu, ya? Sama sekali?

            “Daun, kenapa diem?” Bunga merendahkan wajahnya agar bisa melihat mataku.

            “Mung-kin… dia akan sekaget aku sekarang”

            “Kaget yang—bahagia atau enggak?”

            Batinku sekarang seolah membeku. ‘Daun. Ayo jawablah pertanyaan Bunga! Bilang kamu nggak mau! Bilang kamu yang mencintainya, bukan Hujan!’ Ada peperangan hati nurani disana. ‘Bilang Daun! Atau kamu akan menyesalinya!!’ Lagi-lagi semua pikirannya seolah bekerja sama untuk membuat bibirku mengucapkan kejujuran. Tapi nyaliku belum kuat. Berilah aku suntikan adrenalin, Tuhan!

            “Kaget yang bahagia kok pasti,” jawabku. Tentu saja aku lemas tak terkira setelah mengucapkan satu kalimat itu. Benarkah ini yang aku inginkan? Benarkah?

            Bunga terlihat antusias. Matanya berbinar-binar tegas dan terlihat seolah telah menetapkan hati. “Oke.” Satu kata dari Bunga menambah tebalnya dan kuatnya tembok pemisah antara kita.

            “Eh, Bunga, aku pergi sebentar, ya.” Aku ingin lari. Benar-benar ingin lari.

            Dia terlihat memerah. Marah. “Kamu mau ke mana? Nanti kalau aku panik yang menenangkan aku siapa? Nanti kalau aku ditolak yang support aku siapa?” tanyanya membabi buta. Oh, Bunga. Tidak bisakah kamu melihat raut sayu dan kecewaku? Tidak bisakah kamu melihat perhatianku selama ini bentuk dari ungkapan perasaanku? Tidak bisakah kamu melihat aku sebagai seorang lelaki, sama seperti kamu melihat Hujan? Ah… Entah kamu robot atau memang hatimu sekeras baja?

            “Aku datang kok,” kataku dengan senyuman paling tulus yang pernah kuberikan. “Percaya, deh”

            Rantingku yang semula hanya tergantung, kini benar-benar sudah terpisah dari tempatnya semula. Aku terbang mengikuti angin lembut di bulan November ini. Tak peduli ke mana pun angin membawaku yang penting aku bisa jauh darinya.

***

Bunga tidak pernah mendapatkan cinta sejatinya karena Bunga hanya menunggu Hujan atau karena Daun hanya diam?

***

Aku setangkai Bunga.

Yang mencintai Hujan yang lebat.

            Aku suka saat Hujan bisa meneduhkanku dari segala problema kehidupanku yang semu. Aku suka saat Hujan membangkitkanku kembali ketika aku sudah kehilangan harapan. Aku suka Hujan yang, di setiap titik bulir airnya yang jatuh, bisa membuatku memiliki semangat untuk menjalani hidup. Aku suka bagaimana ia menyegarkan mataku setiap memandang ke langit. Bagaimana ia mendewasakanku dan mengarahkan aku. Bagaimana ia menjadi motivasi terbesarku agar bisa melampaui kemampuannya. Aku suka Hujan yang dingin. Yang diamnya mampu membuat diriku yang layu menghangat. Yang senyumnya selalu dapat meyakinkanku kalau semuanya akan baik-baik saja.

            Aku mendengar gemuruh dari sisi timur dan aku tak sabar untuk menyambutnya. Benar saja, matahari mulai tertutup oleh Awan dan Hujan turun dengan lebatnya. Sinar matahari mencoba menyeruak di antara mendung hingga menghasilkan karya Tuhan terindah saat ia terefleksi pada butiran air Hujan.

            “Hujan,” panggilku.

            “Oh hei, Bunga,” dia terlihat bingung. “Mana Daun? Biasanya kalian bersama-sama kan?” tanyanya menyadari Daun sudah tidak ada di sampingku lagi.

            “Ehm… Ada yang lebih penting yang mau aku omongin, Hujan,” aku menatapnya lurus dan sepertinya dia tahu ada yang lain dari diriku. “Aku… Aku ngerasa ada yang lain kalau ketemu kamu. Aku merasa hariku akan jauh lebih indah kalau aku udah sama kamu. Kamu selalu bisa bikin aku tenang. Kamu selalu… jadi orang yang paling berharga buat aku sekarang,” kusadari pipiku memerah. Kucoba mengatur jantungku yang berdetak tak karuan. “Aku sayang banget sama kamu Hujan,” lanjutku.

            Hujan mendadak tak selebat tadi. Hujan mulai menjadi gerimis. Aku tahu ia terkejut. Dia tak berwajah sehangat saat pertama kali datang. Ia tak seramai tadi, tak seceria tadi.

            “Emm… emm,” ia mulai kikuk. “Makasih ya, Bunga. Kamu… kamu juga salah satu temanku yang paling indah yang pernah kutemui.”Aku mulai menyunggingkan segaris senyum. Lega mendengarnya.

            “Tapi,” ia kemudian melanjutkan. “Tapi maaf. Aku sudah… aku sudah sama dia,” katanya sambil melirik ke atasnya. Awan. “Dan aku nggak bisa ngasih yang lebih dari pertemanan, Bunga. Maaf”

            Aku tertunduk. Layu.

            Hatiku digerogoti rasa geram dan cemburu luar biasa pada Awan tetapi tidak bisa membuatku benci padanya. Dalam hati aku menyadari bahwa aku tidak berbanding dengannya. Aku sadar Awan mencintai Hujan lebih daripada aku. Kulihat Hujan juga menatapku dengan sedih. Ia terlihat berusaha menghiburku dengan butiran airnya, tetapi tidak bisa. Aku tetap layu. Baru kali ini kesunyian merajai pertemuanku dengan Hujan.

            “Bunga, maafkan aku. Awan mengajakku ke barat,” Hujan masih tak mengerti apa yang harus ia perbuat dan yang harus ia ucapkan. Mata Hujan hanyalah mata yang penuh kecemasan saat ingin meninggalkanku. Namun, ia tetap bergerak perlahan menjauhiku, mengikuti Awan.

            “Lupakan aku, Bunga. Hiduplah dengan lebih baik”

***

Bunga tidak pernah mendapatkan cinta sejatinya karena Bunga hanya menunggu Hujan atau karena Daun hanya diam?

***

Aku gemericik Hujan.

Yang mencintai Awan yang putih.

            Aku sering melihat Bunga dari jauh. Aku sering melihatnya menyapaku dengan lembut. Aku sering memperhatikan cara ia berbicara kepadaku yang penuh semangat. Cara ia menanyakan keadaanku. Cara ia memberiku saran. Cara ia memandangku. Mengingatkan aku pada saudara kecilku yang nun jauh di sana. Membuatku merindukannya seperti aku rindu pada adikku.

            Terlalu nyaman bersama Bunga tidak membuatku lupa pada Awan. Hanya dia yang kucintai sepenuh hati dan yang mencintaiku sepenuh hati. Namun melihat Bunga layu seperti itu, aku tidak tega. Bagaimana bisa Bunga yang selalu ceria menjadi lemah tak berdaya, menangis, dan hanya menangis.

            Aku bergerak ke arah barat mengikuti Awan. Beberapa saat aku terkejut menemukan Daun tersangkut dan terdiam murung di bawah pohon. “Daun!” teriakku. “Kamu ngapain disini?”

            Daun menatapku penuh kebencian. “Gimana rasanya jadi pacarnya Bunga?”

            Aku melongo.  Oh… I see. Jadi dia punya perasaan sama Bunga.

            “Hei, aku sudah punya Awan,” jawabku yang jelas mengagetkan Daun. Belum sempat dia bertanya apapun, aku langsung memotong, “Iya, aku bilang nggak bisa tadi. Dan kayaknya… Bunga lagi di posisi yang sakit hati banget. Dia layu. Dan dia pasti butuh kamu sekarang, Daun. Kamu kan temennya”

            Ia menengadahkan kepalanya ke arahku. Aku bisa membongkar tatapannya itu. Dia pasti kesal padaku. Pasti.

           “Kenapa aku yang harus kesana? Bukan aku yang dia inginkan, Hujan! Bukan aku yang dia mau,” napas Daun naik-turun tak menentu.

            “Daun…” aku merendahkan nada bicaraku. “Sederas apapun aku menyemangati Bunga, yang Bunga inginkan sekarang hanyalah jauh dariku. Yang ia butuhkan saat ini bukan aku. Tapi sahabatnya yang selalu ada di sampingnya, yang mendukung dia waktu lagi jatuh, dan yang bisa mengembalikan senyumnya seperti dulu. Aku tahu itu kamu, Daun. Yakinlah pada dirimu”

            Kesedihan seolah menyelimuti Daun. Dengan suara parau ia berkata, “Tapi aku bukan kamu, Hujan. Aku nggak sedingin kamu, nggak setinggi kamu, nggak sehebat kamu. Aku cuma Daun…”

            “Jujurlah, Daun. Akhir seperti apa yang kamu inginkan? Kamu ingin aku berakhir dengannya, melukai Awan, atau kamu yang ingin berakhir dengannya? Sekarang aku cuma bisa mendorongmu untuk berbuat, aku nggak akan memaksamu, nggak. Kalau memang akhir seperti ini yang kamu inginkan, ya sudah, jangan pernah berusaha,” aku mengakhiri kata-kataku sambil memandang jauh ke atas pujaanku, Awan.

            “Tapi kamu perlu tahu. Ada kalanya seorang wanita sangat berhak kita perjuangkan. Dan hanya dengan usaha kamu bisa merubah masa depan, dengan dia, dengan siapapun. Tanpa itu kamu cuma omong kosong”

            Aku menutup pembicaraan dengan cukup tegas dan menyayat hati. Biar saja. Biar Daun bisa berpikir jernih. Sambil bergerak, aku mencoba mengarahkan butir-butir air hujanku untuk mengalirkan Daun menuju ke dekat Bunga. Aku tahu Daun pasti sedih melihat keadaan Bunga sekarang. Bunga masih murung, tangkainya yang kecil begitu rapuh, dan Daun sudah sedekat itu dengan Bunga tapi masih diam. Diam. Membisu. Tak pernah berani mengungkapkan apa yang ia ingin katakan selama ini.

            Sekelebat pikiranku memberikan teka teki yang tertahan di tenggorokanku. Tak sempat terucap dan tak sempat terjawab.

            ‘Hei, Daun. Menurutmu, Bunga tidak pernah mendapatkan cinta sejatinya karena Bunga hanya menunggu Hujan atau karena Daun hanya diam?’

***

— Cerpen

4 Comments

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: